Pages

Subscribe:

Jumat, 01 Maret 2013

Berita Politik Humaniora Ekonomi Hiburan Olahraga Lifestyle Wisata Kesehatan Tekno Media Muda Green Lipsus Fiksiana Freez Home Humaniora Sosbud Artikel Sosbud Syepti Melati Marthadiredja Jadikan Teman | Kirim Pesan Seorang siswi SMA yang sedang mencari jati diri 0inShare Pakaian Adat Pengantin Betawi, Made In China?

Masih dalam suasana perayaan ulang tahun Ibukota Jakarta ke -483, banyak obrolan menarik yang sedang ramai dibicarakan masyarakat Jakarta, bahkan masyarakat luar Jakarta. Salah satunya adalah Pekan Raya Jakarta yang diadakan setiap tahunnya yang mengundang minat pengunjung dalam dan luar Jakarta. Tak hanya itu , obrolan menarik lainnya adalah pakaian adat pengantin Betawi yang ternyata buatan Cina. Pakaian pengantin perempuan Betawi kadang disebut dengan nama Putri Cina karena dilihat dari banyaknya kesamaan dengan pakaian pengantin yang dipakai oleh putri Dinasti Cina pada abad ke-7. Di Negara Cina pakaian ini hanya digunakan oleh para pengantin wanita yang berasal dari kaum bangsawan. Dilihat dari detail baju pengantin ini , memang kental dengan nuansa Cina. Baju sang pengantin (dinamakan Tuaki) berwarna merah yang melambangkan kabahagiaan dan memiliki kancing dari atas hingga bawah. Rok-nya (dinamakan Kun) terbuat dari bahan sutra dengan manik-manik dan gambar burung Hong (phoenix) di Cina berarti ciri khas pakaian kekaisaran Cina dan di Betawi berarti hiasan kepala yang tidak boleh ketinggalan , jumlahnya 4 yang melambangkan sahabat Nabi Muhammad SAW, sementara burung Hong simbol burung surga melambangkan kebahagiaan kedua mempelai. Dan tak lupa penutup wajah (dinamakan Siangko) alias cadar dari bahan emas atau perak. Tetapi setelah masuk Betawi pakaian ini mendapat banyak tambahan dan sedikit perubahan yang menjadikan pakaian adat pengantin ini adalah milik rakyat Betawi. Pakaian pengantin pria didandani cara haji, biasanya menggunakan tutup kepala yang disebut alpia. dan pakaian wanita yang diberi tambahan hiasan pada bagian kepala. Pada saat perayaan pernikahan ini, Orang betawi juga tidak lupa untuk menyalakan mercon alias petasan renceng saat menyambut datangnya pengantin. Hal ini pula yang biasa dilakukan oleh orang-orang Tionghoa. Mercon ini dinyalakan dengan tujuan untuk mengusir roh-roh jahat agar tidak mengganggu jalannya perayaan pernikahan . Ternyata, suara mercon yang keras dan berisik mempunyai arti membuat roh jahat menjadi takut. Yang asli dari Betawi adalah prosesi ‘palang pintu’ dan kemudian ditandai oleh pertandingan silat. Setelah ditelusuri , pakaian adat pengantin Betawi ini adalah hasil dari akulturasi (hasil peleburan dua budaya) yakni kebudayaan Cina (Tionghoa) dan kebudayaan Indonesia. Hal ini terjadi karena dahulu orang Cina sudah datang merantau nasib diberbagai wilayah Indonesia, salah satunya Jakarta. Dan pada akhirnya pakaian adat ini menjadi pakaian adat pengantin Betawi.

0 komentar:

Poskan Komentar