Pages

Subscribe:

Kamis, 07 Maret 2013

Pakaian Tradisional Yogyakarta

Pakaian tradisional masyarakat Yogyakarta terdiri dari seperangkat pakaian yang memiliki unsur, tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Kelengkapan berpakaian tersebut merupakan ciri khusus untuk mengetahui identitas bagi pemakainya yang meliputi fungsi dan peranannya. Oleh karena itu, cara berpakaian biasanya sudah dibakukan secara adat, kapan dikenakan, di mana dikenakan, dan siapa yang mengenakannya.
Secara keseluruhan seperangkat pakaian terdiri dari bagian atas, bagian tengah, dan bagian bawah. Bagian atas meliputi tutup kepala(Blangkon untuk laki-laki) dan tata rias rambut (Sanggul, Konde,); bagian tengah terdiri dari baju (Surjan untuk laki-laki, dan Kebaya untuk perempuan), dan perhiasan (aksesori); serta bagian bawah berupa alas kaki. Penggolongan pakaian tersebut harus berdasarkan jenis kelamin, usia, dan status sosial.
Sedangkan yang dimaksud dengan pengertian Pakaian tradisional sehari-hari di sini adalah seperangkat pakaian yang dikenakan di rumah, saat bekerja, dan saat bepergian. Pemakainya dapat digolongkan berdasarkan jenis kelamin, usia, dan status sosial. Sejak kecil putra-putri Sultan telah mengenal beberapa peraturan yang mem-bedakan dirinya dengan status individu lainnya, diantaranya melalui bentuk Pakaian tradisional yang harus dikenakan. Pakaian tradisional yang dirancang untuk anak-anak terdiri dari busana kencongan untuk anak laki-laki, dan busana sabukwala untuk anak perempuan.
Pakian tradisional untuk anak laki-laki model kencongan terdiri dari kain batik yang dikenakan dengan baju surjan, lonthong tritik, ikat pinggang berupa kamus songketan dengan cathok terbuat dari suwasa (emas berkadar rendah). Sedangkan busana seharihari bagi pria remaja dan dewasa terdiri dari baju surjan, kain batik dengan wiru di tengah, lonthong tritik, kamus songketan, timang, serta mengenakan dhestar sebagai tutup kepala.
Pakian tradisional yang dikenakan untuk anak perempuan ialah sabukwala padintenan. Rangkaian busana ini terdiri dari nyamping batik, baju katun, ikat pinggang kamus songketan bermotif flora atau fauna, memakai lonthong tritik, serta mengenakan cathok dari perak berbentuk kupu-kupu, burung garuda, atau merak. Perhiasan yang dikenakan sebagai pelengkap terdiri dari subang, kalung emas dengan liontin berbentuk mata uang (dinar), gelang berbentuk ular (gligen) atau model sigar penjalin. Bagi yang berambut panjang disanggul dengan model konde. Kainnya bermotif parang, ceplok, atau gringsing.

0 komentar:

Poskan Komentar